Nurwahidah Sanum

Nurwahidah Sanum

Selasa, 03 Januari 2012

HADIS HASAN

HADIS HASAN
MAKALAH DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS AIK IV


BAB I
PENDAHULUAN

                 Hadits adalah perkataan dan perbuatan dari nabi Muhammad. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al-qur’an. Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminology islam istilah hadits berarti melaporkan/mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari nabi Muhammad.
                 Secara struktur hadits terdiri dari dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Sanad[1] adalah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapau Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al-Hadits terkait dengan sanadnya ialah: keutuhan sanadnya, jumlahnya, dan perawi akhirnya.
                 Matan adalah redaksi dari hadits. Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam memahami hadits adalah: ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada nabi Muhammad atau bukan, matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al-qur’an (apakah ada yang bertolak belakang).
                 Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan). Berdasarkan ujung sanad hadits dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu hadits marfu’ (terangkat), mauquf (terhenti), dan maqtu’. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad hadits tebagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, munqati’, mu’allaq, mu’dal dan mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya adalah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.
                 Berdasarkan jumlah penutur hadis dibagi menjadi 2 yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan tingkat keaslian hadits dibagi menjadi 4 bagian yaitu: hadits shahih, hadits hasan, hadits dhaif dan hadits maudu’. Kategori tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.

 
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Hadis Hasan
1.    Secara bahasa (etimologi)
     Kata Hasan (حسن) merupakan Shifah Musyabbahah dari kata al-Husn (اْلحُسْنُ) yang bermakna al-Jamâl (الجمال): kecantikan, keindahan.[2]
2.    Secara Istilah (teriminologi)
     Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama hadits mengingat pretensinya berada di tengah-tengah antara Shahîh dan Dla’îf. Juga, dikarenakan sebagian mereka ada yang hanya mendefinisikan salah satu dari dua bagiannya saja.
Berikut beberapa definisi para ulama hadits dan definisi terpilih:
1.    Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya), yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan.
Definisi at-Turmudzy : yaitu, “setiap hadits yang diriwayatkan, pada sanadnya tidak ada periwayat yang tertuduh sebagai pendusta, hadits tersebut tidak Syâdzdz (janggal/bertentangan dengan riwayat yang kuat) dan diriwayatkan lebih dari satu jalur.”[3] Uraian Imam Tirmizî ini bila dicermati dan diperhatikan terdapat tiga kriteria pokok tentang hadis hasan, yang ketiganya merupakan unsur-unsur yang membedakan antara kualitas hadis yang satu dengan yang lainnya, yang hasan dengan yang da`îf dan sahîh. Tiga kreteria itu adalah:
1) Pada sanadnya tidak terdapat perawi yang tertuduh berdusta. Kriteria ini tidak memasukkan didalamnya para perawi yang berdusta.Yang termasauk dalam kriteria ini adalah perawi yang mempuyai daya ingat yang rendah, perawi yang disifati dengan salah dan keliru, hadis yang sanadnya terputus tetapi samar (hadis munqati`), atau hadis yang telah terjadi kerancauan karena bercampur dengan hadis lain atau setelah dicampurinya dengan perkataan yang lain, juga hadis seorang perawi yang muddalis yang meriwayatkan  hadis dengan lafal ‘an-‘anah (periwayatan dengan mengunakan banyak lafal ‘an)--karena ini mereka tidak dapat dituduh berdusta, juga perawi tidak dijelaskan. Dijelaskan  al-jarh maupun at-ta’dîlnya, ataupun diperselisihkan al-jarh dan ta’dîlnya namun tidak dapat ditentukan antara keduanya.Yang juga masuk dalam kreteria hadis hasan, adalah perawi yang siqah, periwayat orang-orang yang jujur, akan tetapi tidak terlalu dabit. Perlu ditegaskan bahwa kategori siqah ini dalam hadis hasan tidak sehebat kategori siqah dalam hadis sahîh. Hal ini menunjukkan tingkatan yang lebih rendah akan hadis hasan, dibanding dengan derajat hadis sahîh.
2) Hadis tersebut tidak janggal (Syaz) Imam Tirmizî sebenarnya ingin  menyatakan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi hasan harus tidak bertentangan dan selaras dengan  perawi-perawi yang siqah dalam hadis yang sama, meskipun berbeda lafal (atau dengan kata lain riwayah bi al-Ma’nâ). Konsekwensi dari batasan ini adalah apabila hadis itu bertentangan dengan periwayat yang siqah, maka hadisnya ditolak(mardûd/da`îf)
3) Hadis tersebut diriwayatkan pula melalui jalur yang lain yang sederajat dengan hadis itu atau lebih tinggi tingkatannya. Dalam hal ini, terkesan bahwa Imam Tirmizî memberikan syarat dengan ta’adud ar-Râwî (berbilang-bilangnya rawi),[30] artinya bahwa hadis hasan harus  diriwayatkan  pula  melalui  sanad lain,  baik  satu  atau  lebih, dengan berprinsip pada persamaan derajat dengannya atau lebih kuat. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan satu dari dua kemungkinan, yaitu membuang yang lemah atau mengambil yang lebih kuat.
2.    Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal, terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah, Abu Ishaq as-Suba''i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha'' bagi penduduk kalangan Makkah.
3.    Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya.
                 Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta, tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.

B.      Syarat Hadits Hasan
     Adapun syarat hadits hasan sama dengan syarat hadits shahih, yaitu ada lima namun tingkat kedlobitanya berbeda.[4]
a. Sanadnya bersambung,
b. Perawinya adil, lebih rendah dari hadits shahih,
c. Dlobith,
d. Tidak ada illat,
e. Tidak ada syadz,
Perbedaan hadits Shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya. Jika hadits Shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadits hasan tingkat kedhabithannya berada dibawahnya. Contoh hadits Hasan adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Amr bin al-Qamah, dari Salamah, dari Abu Hurairah. Dalam hadits ini, hadits dikategorikan hasan dikarenakan Muhammad bin Amr bin al-Qamah dikenal tingkat hafalannya yang tidak luar biasa.[5]
C. Klasifikasi Hadits Hasan
1. Hadits Hasan Li-dzatihi
     Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Dinamakan hasan li-dzatihi, karena sifat kehasanannya muncul di luarnya. Dengan demikian, hasan li-dzatihi ini dengan sendirinya telah mencapai tingkatan shahih dalam berbagai persyaratannya, meskipun nilanya sedikit di bawah hadits shahih berdasarkan ingatan para perawinya.
            Di antara contoh hadits ini adalah:
            “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, maka pasti aku perintahkan untuk                        menggosok gigi setiap waktu shalat.”
2.     Hadits Hasan lighairih
            Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata            keahliannya), bukan pelupa yang banyak salahnya, tidak tampak adanya sebab yang       menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang    semisal             dan semakna dari sesuatu segi yang lain.[6]
            Ringkasnya, hadits hasan lighairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah), namun             karena ada ada mu''adhdhid, maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi.            Andaikata tidak ada ''Adhid, maka kedudukannya dhaif.
            Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita             menerima mahar berupa sepasang sandal:
            "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal            ini?" Perempuan itu menjawab, "Ya." Maka nabi SAW pun membolehkannya.”
            Hadits ini asalnya dhaif (lemah), karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari ''Ashim bin         Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. As-Suyuti mengatakan bahwa ''Ashim ini dhaif             lantaran lemah hafalannya. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat, maka    posisi   hadits ini menjadi hasan li ghairihi.[7]
           
D.   Hukumnya
                 Di dalam berargumentasi dengannya, hukumnya sama dengan hadits Shahîh sekalipun dari sisi kekuatannya, ia berada di bawah hadits Shahih. Oleh karena itulah, semua ahli fiqih menjadikannya sebagai hujjah dan mengamalkannya. Demikian juga, mayoritas ulama hadits dan Ushul menjadikannya sebagai hujjah kecuali pendapat yang aneh dari ulama-ulama yang dikenal keras (al-Mutasyaddidûn). Sementara ulama yang dikenal lebih longgar (al-Mutasâhilûn) malah mencantumkannya ke dalam jenis hadits Shahîh seperti al-Hâkim, Ibn Hibbân dan Ibn Khuzaimah namun disertai pendapat mereka bahwa ia di bawah kualitas Shahih yang sebelumnya dijelaskan.” (Tadrîb ar-Râwy:I/160).[8]
Contohnya:
Hadits yang dikeluarkan oleh at-Tarmidzy, dia berkata, “Qutaibah menceritakan kepada kami, dia berkata, Ja’far bin Sulaiman adl-Dluba’iy menceritakan kepada kami, dari Abu ‘Imrân al-Jawny, dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ariy, dia berkata, “Aku telah mendengar ayahku saat berada di dekat musuh berkata, ‘Rasulullah SAW., bersabda, “Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang-pedang…”[9]
                 Hadits ini adalah Hasan karena empat orang periwayat dalam sanadnya tersebut adalah orang-orang yang dapat dipercaya (Tsiqât) kecuali Ja’far bin Sulaiman adl-Dlub’iy yang merupakan periwayat hadits Hasan –sebagaimana yang dinukil oleh Ibn Hajar di dalam kitab Tahdzîb at-Tahdzîb-. Oleh karena itu, derajat/kualitasnya turun dari Shahîh ke Hasan.

E.   Tingkatan-Tingakatannya
                 Sebagaimana hadits Shahih yang memiliki beberapa tingkatan yang karenanya satu hadits shahih bisa berbeda dengan yang lainnya, maka demikian pula halnya dengan hadits Hasan yang memiliki beberapa tingkatan.
Dalam hal ini, ad-Dzahaby menjadikannya dua tingkatan:
Pertama, (yang merupakan tingkatan tertinggi), yaitu: riwayat dari Bahz bin Hakîm dari ayahnya, dari kakeknya; riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya; Ibn Ishaq dari at-Tîmiy. Dan semisal itu dari hadits yang dikatakan sebagai hadits Shahih padahal di bawah tingkatan hadits Shahih.
Kedua, hadits lain yang diperselisihkan ke-Hasan-an dan ke-Dla’îf-annya, seperti hadits al-Hârits bin ‘Abdullah, ‘Ashim bin Dlumrah dan Hajjâj bin Artha’ah, dan semisal mereka.

Tingkatan Ucapan Ulama Hadits, “Hadits yang shahîh sanadnya” atau “Hasan sanadnya”
1. Ucapan para ulama hadits, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya” adalah di bawah kualitas ucapan mereka, “Ini adalah hadits Shahih.”
2. Demikian juga ucapan mereka, “Ini adalah hadits yang Hasan sanadnya” adalah di bawah kualitas ucapan mereka, “Ini adalah hadits Hasan” karena bisa jadi ia Shahih atau Hasan sanadnya tanpa matan (redaksi/teks)nya akibat adanya Syudzûdz atau ‘Illat.

                 Seorang ahli hadits bila berkata, “Ini adalah hadits Shahih,” maka berarti dia telah memberikan jaminan kepada kita bahwa ke-lima syarat keshahihan telah terpenuhi pada hadits ini. Sedangkan bila dia mengatakan, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya,” maka artinya dia telah memberi jaminan kepada kita akan terpenuhinya tiga syarat keshahihan, yaitu: sanad bersambung, keadilan si periwayat dan kekuatan daya ingat/hafalan (Dlabth)-nya, sedangkan ketiadaan Syudzûdz atau ‘Illat pada hadits itu, dia tidak bisa menjaminnya karena belum mengecek kedua hal ini lebih lanjut.
                 Akan tetapi, bila seorang Hâfizh (penghafal banyak hadits) yang dipegang ucapannya hanya sebatas mengatakan, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya,” tanpa menyebutkan ‘illat (penyakit/alasan yang mencederai bobot suatu hadits); maka pendapat yang nampak (secara lahiriah) adalah matannya juga Shahîh sebab asal ucapannya adalah bahwa tidak ada ‘Illat di situ dan juga tidak ada Syudzûdz.

Makna Ucapan at-Turmudzy Dan Ulama Selainnya, “Hadits Hasan Shahîh”
                 Secara implisit, bahwa ungkapan seperti ini agak membingungkan sebab hadits Hasan kurang derajatnya dari hadits Shahîh, jadi bagaimana bisa digabung antara keduanya padahal derajatnya berbeda. Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama memberikan jawaban yang beraneka ragam atas maksud dari ucapan at-Turmudzy tersebut. Jawaban yang paling bagus adalah yang dikemukakan oleh Ibn Hajar dan disetujui oleh as-Suyûthy, ringkasannya adalah:
1.    Jika suatu hadits itu memiliki dua sanad (jalur transmisi/mata rantai periwayatan) atau lebih; maka maknanya adalah “Ia adalah Hasan bila ditinjau dari sisi satu sanad dan Shahîh bila ditinjau dari sisi sanad yang lain.”
2.    Bila ia hanya memiliki satu sanad saja, maka maknanya adalah “Hasan menurut sekelompok ulama dan Shahîh menurut sekelompok ulama yang lain.”
                 Seakan Ibn Hajar ingin menyiratkan kepada adanya perbedaan persepsi di kalangan para ulama mengenai hukum terhadap hadits seperti ini atau belum adanya hukum yang dapat dikuatkan dari salah satu dari ke-duanya.


Pengklasifikasian Hadits-Hadits Yang Dilakukan Oleh Imam al-Baghawy Dalam Kitab “Mashâbîh as-Sunnah”
                 Di dalam kitabnya, “Mashâbîh as-Sunnah” imam al-Baghawy menyisipkan istilah khusus, yaitu mengisyaratkan kepada hadits-hadits shahih yang terdapat di dalam kitab ash-Shahîhain atau salah satunya dengan ungkapan, “Shahîh” dan kepada hadits-hadits yang terdapat di dalam ke-empat kitab Sunan (Sunan an-Nasâ`iy, Sunan Abi Dâ`ûd, Sunan at-Turmdzy dan Sunan Ibn Mâjah) dengan ungkapan, “Hasan”. Dan ini merupakan isitlah yang tidak selaras dengan istilah umum yang digunakan oleh ulama hadits sebab di dalam kitab-kitab Sunan itu juga terdapat hadits Shahîh, Hasan, Dla’îf dan Munkar.
                 Oleh karena itulah, Ibn ash-Shalâh dan an-Nawawy mengingatkan akan hal itu. Dari itu, semestinya seorang pembaca kitab ini ( “Mashâbîh as-Sunnah” ) mengetahui benar istilah khusus yang dipakai oleh Imam al-Baghawy di dalam kitabnya tersebut ketika mengomentari hadits-hadits dengan ucapan, “Shahih” atau “Hasan.”

F. Kitab-Kitab Yang Di Dalamnya Dapat Ditemukan Hadits Hasan
                 Para ulama belum ada yang mengarang kitab-kitab secara terpisah (tersendiri) yang memuat hadits Hasan saja sebagaimana yang mereka lakukan terhadap hadits Shahîh di dalam kitab-kitab terpisah (tersendiri), akan tetapi ada beberapa kitab yang di dalamnya banyak ditemukan hadits Hasan. Di antaranya yang paling masyhur adalah:
1. Kitab Jâmi’ at-Turmudzy atau yang lebih dikenal dengan Sunan at-Turmudzy. Buku inilah yang merupakan induk di dalam mengenal hadits Hasan sebab at-Turmudzy-lah orang pertama yang memasyhurkan istilah ini di dalam bukunya dan orang yang paling banyak menyinggungnya.
Namun yang perlu diberikan catatan, bahwa terdapat banyak naskah untuk bukunya tersebut yang memuat ungkapan beliau, “Hasan Shahîh”, sehingga karenanya, seorang penuntut ilmu harus memperhatikan hal ini dengan memilih naskah yang telah ditahqiq (dianalisis) dan telah dikonfirmasikan dengan naskah-naskah asli (manuscript) yang dapat dipercaya.
2. Kitab Sunan Abi Dâ`ûd. Pengarang buku ini, Abu Dâ`ûd menyebutkan hal ini di dalam risalah (surat)-nya kepada penduduk Mekkah bahwa dirinya menyinggung hadits Shahih dan yang sepertinya atau mirip dengannya di dalamnya. Bila terdapat kelemahan yang amat sangat, beliau menjelaskannya sedangkan yang tidak dikomentarinya, maka ia hadits yang layak. Maka berdasarkan hal itu, bila kita mendapatkan satu hadits di dalamnya yang tidak beliau jelaskan kelemahannya dan tidak ada seorang ulama terpecayapun yang menilainya Shahih, maka ia Hasan menurut Abu Dâ`ûd.
3. Kitab Sunan ad-Dâruquthny. Beliau telah banyak sekali menyatakannya secara tertulis di dalam kitabnya ini.

 

BAB III
KESIMPULAN

                 Hadits adalah perkataan dan perbuatan dari nabi Muhammad. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al-qur’an. Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, oleh penukil yang adil namun tidak terlalu kuat ingatannya, dan terhindar dari keganjilan serta penyakit. Perbedaan dan persamaan dari hadis hasan dengan hadis shahih adalah adanya batasan yaitu bahwa keadilan pada hadis hasan disandang oleh orang yang tidak begitu kuat ingatannya. Tetapi keduanya bebas dari keganjilan dan penyakit. Keduanya bisa digunakan sebagai hujjah dan kandungannya dapat dijadikan penguat.
                 Adapun syarat hadits hasan sama dengan syarat hadits shahih, yaitu ada lima namun tingkat kedlobitanya berbeda.a. Sanadnya bersambung, b. Perawinya adil, lebih rendah dari hadits shahih, c. Dlobith, d. Tidak ada illat, e. Tidak ada syadz. Hadis Hasan dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu: hadits hasan li-dzatih (hasan dengan sendirinya) dan hadis hasan lighairih (hasan dengan topangan hadis lain).
                 Menurut Al-Baghawi dalam kitabnya Mashabih as-sunnah memuat istilah khas dalam usaha membedakan hadis shahih dan hadis hasan. Shahih adalah hadis yang ditakhrijkan (dikeluarkan diterangkan) oleh imam bukhari dan muslim, atau salah seorang diantaranya, sedangkan hasan ialah hadis yang diriwayatkan oleh imam abu dawud, at-tirmidzi dan semisalnya. Namun pendapat ini banyak ditentang oleh para ulama karna mereka tidak menemukan alasan untuk memperkenalkan istilah yang khusus itu, apalagi bila mengingat bahwa kitabya mashabih tidak sunyi dari hadis-hadis munkar, yang diriwayatkan sendiri.

 
DAFTAR PUSTAKA


SUBHI, DR.AS-SHALIH. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus. Cetakan kelima.:   Jakarta. 2002.
Al-khotib, DR. Muhammad Ajaj. Ushul al-Hadits : Pokok-pokok Ilmu Hadits. (Gaya Media Pratama: Jakarta). 2001.

An-Nadwi, H. Fadlil Sa’id. Ilmu Mustholah Hadits. (Al-Hidayah:Surabaya).1420 H.

Ahmad, Drs. H. Muhammad-Drs. H.Mudzakir. Ulumul Hadits.(Pustaka Setia :Bandung). 2004.
http://Tausyiah275.com/Pembagian Hadits   November   2005.htm



[1]"Hadith," Encyclopedia of Islam. Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW

[3] Jami At-Turmudzy beserta Syarah-Nya, (Tuhfah Al-Ahwadzy), kitab Al-Ilal di akhirnya:  X/519

[5]     Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki (2006). Ilmu Ushul Hadits. Yogyakarta: Pustaka   Pelajar ISBN 979-24-5855-7
[6]     Al-khotib, DR. Muhammad Ajaj. Ushul al-Hadits : Pokok-pokok Ilmu Hadits. (Gaya Media Pratama: Jakarta). 2001. Hadits hasan lighairi ini harus memenuhi tiga syarat: 1. Bukan pelupa yang banyak salahnya dalam hadits yang diriwayatkan. 2. Tidak tampak dalam kefasikakarena dan pada diri perawinya. 3. Hadits yang diriwayatkan benar-benar telah dikenal luas, karena ada periwayatan yang serupa dengannya atau semakna, yang diriwayatkan dari satu jalur lain atau lebih.
[8] SUBHI, DR.AS-SHALIH. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus. Cetakan kelima.: Jakarta. 2002.
[9] (Sunan at-Turmudzy, bab keutamaan jihad:V/300).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar